PERSEPSI MASYARAKAT DESA MANTREN TERHADAP LARANGAN DI GUNUNG LIMO: KAJIAN RESEPSI STUART HALL
Keywords:
Persepsi Masyarakat, Larangan, Gunung Limo, Folklor, Resepsi Stuart HallAbstract
Larangan di Gunung Limo masih hidup sebagai folklor lisan masyarakat Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Perbedaan usia, pengalaman, pendidikan, dan latar sosial budaya menyebabkan masyarakat memiliki pemaknaan yang beragam terhadap larangan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk larangan, menganalisis persepsi masyarakat berdasarkan teori resepsi Stuart Hall, serta menjelaskan pengaruh larangan terhadap perilaku masyarakat. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian folklor. Data diperoleh melalui observasi, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi terhadap 12 informan dari generasi Baby Boomers, Milenial, dan Generasi Z. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menemukan delapan larangan terkait perilaku, pelestarian lingkungan, serta kondisi atau kesucian diri. Sebanyak delapan informan berada pada posisi dominant reading, tiga negotiated reading, dan satu oppositional reading. Larangan memengaruhi perilaku melalui pengendalian tutur kata, penghormatan kawasan sakral, pelestarian alam, dan pewarisan nilai budaya. Temuan menunjukkan tradisi bertahan, tetapi maknanya terus dinegosiasikan antargenerasi.





